Cerita Dewasa : HOT TANTE DI TOKO BUKU

HOT TANTE DI TOKO BUKU
HOT TANTE DI TOKO BUKU

Layardewasa : Pada suatu hari sekitar siang hari aku berada di suatu toko buku. Di suatu tempat untuk melakukan pembelian majalah edisi khusus. Yang katanya sih edisi terbatas. Hari tersebut aku mengenakan kaos t-shirt putih dan celana katun abu-abu. Sebenarnya ukuran badanku sih biasa saja, tinggi 170 cm berat 63 kg, badan lumayan tegap, rambut cepak. Wajahku biasa saja, bahkan ingin terkesan sangar.

Agak kotak, hidung biasa, tidak mancung dan tidak pesek. Mataku agak kecil tidak jarang kali menatap dengan tajam, alisku tebal dan jidatku lumayan pas deh. Jadi tidak terdapat yang istimewa denganku. Saat tersebut keadaan di toko kitab tersebut tidak terlampau ramai. Meski juga ketika itu ialah jam santap siang, hanya ada selama 7-8 orang. Aku segera mengunjungi rak unsur majalah. Nah, saat aku berkeinginan mengambil majalah itu ada tangan yang juga berkeinginan mengambil majalah tersebut. Kami sempat saling merebut sesaat (sepersekian detik). Dan lantas saling mencungkil pegangan pada majalah tersebut sampai majalah itu jatuh ke lantai

“ehh Maaf..” kataku sambil mengambil majalah yang jatuh tersebut dan memberikannya untuk orang itu. Yang ternyata ialah seorang perempuan yang berumur sekitar 27 tahun (dan ternyata tebakanku salah). (Yang benar 30 tahun), berwajah bulat, bermata tajam (bahkan agak bulat). Tingginya sama denganku (memakai sepatu hak tinggi), dan dadanya lumayan membusung. “Busyet! molek juga nih ibu-ibu”, pikirku. “Nggak pa-pa kok, nyari majalah X juga yah. Saya sudah menggali ke mana-mana namun nggak dapet”, katanya seraya tersenyum manis.

“Yah, edisi ini katanya sih terbatas Mbak..” “Kamu suka juga fotografi yah?” “Nggak kok, cuma bikin koleksi aja kok..” Lalu kami berbicara tidak sedikit tentang fotografi hingga akhirnya, “Mah, Mamah.. Linda telah dapet komiknya, beli dua ya Mah”, potong seorang gadis cilik masih berseragam SD. “Sudah dapet Bu.. owh ya maaf ya Dek, Mbak pamit dulu”, katanya seraya menggandeng anaknya. Ya sudah, nggak bisa majalah ya nggak pa-pa, aku lihat-lihat kitab terbitan yang baru saja. Sekitar separuh jam lantas ada yang menegurku. “Hai hai, asyik banget baca bukunya”, tegur suara perempuan yang halus dan ternyata yang menegurku ialah wanita yang tadi pergi bareng anaknya.

. Rupanya dia balik lagi, nggak bawa anaknya. “Ada yang kelupaan Mbak?” “Oh tidak.” “Putrinya mana, Mbak? “Les piano di wilayah Tebet” “Nggak dianter? “Oh, ada supir yang nganter anakkku.” Habis itu kami terlibat percakapan tentang fotografi, lumayan lama kami berkata sampai kaki ini pegal dan mulut juga jadi haus. Akhirnya Mbak yang mempunyai nama Julia itu mengajakku santap fast food di lantai bawah. Aku duduk di sekitar jendela dan Mbak Julia duduk di sampingku. Harum parfum dan tubuhnnya membuatku konak.

Dan aku merasa, semakin lama dia semakin mendekatkan badannya padaku, aku juga merasakan tubuhnya paling hangat. Busyet dah, lengan kananku tidak jarang kali bergesekan dengan lengan kirinya, tidak keras dan kasar namun sehalus mungkin. Kemudian, kutempelkan paha kananku pada paha kirinya, terus kunaik-turunkan tumitku sampai-sampai pahaku menggesek-gesek dengan perlahan paha kirinya. Terlihat dia sejumlah kali menelan ludah dan menggaruk-garukkan tangannya ke rambutnya. Wah dia udah kena nih, pikirku. Akhirnya dia mengajakku pergi meninggalkan restoran tersebut. “Ke mana?” tanyaku. “Terserah anda saja”, balasnya mesra.

“Kamu tahu nggak lokasi yang privat yang enak bikin ngobrol”, kataku memberanikan diri, terus cerah aja nih, maksudku sih motel. “Aku tahu lokasi yang privat dan enak bikin ngobrol”, katanya seraya tersenyum. Kami memakai taksi, dan di dalam taksi tersebut kami hanya membisu lalu kuberanikan guna meremas-remas jemarinya dan dia juga membalasnya dengan lumayan hot. Sambil meremas-remas jarinya kutaruh tanganku di atas pahanya, dan kugesek-gesekkan. Hawa tubuh kami bertambah dengan tajam, aku tidak tahu apakah sebab AC di taksi tersebut sangat buruk apa nafsu kami sudah paling tinggi.

Kami mendarat di suatu motel di area kota dan langsung memesan kamar standart. Kami masuk lift diantar oleh seorang room boy, dan di dalam lift itu aku memilih berdiri di belakang Mbak Julia yang berdiri sejajar dengan sang room boy. Kugesek-gesekan dengan perlahan kontolku ke bokongnya Mbak Julia, Mbak Julia juga memberi respon dengan menggoyang-goyangkan pantatnya berlawanan arah dengan gesekanku. Ketika room boy meninggalkan kami di kamar, langsung kepeluk Mbak Julia dari belakang, kuremas-remas dadanya yang membusung dan kucium tengkuknya. “Mmhh.. anda nakal sekali deh dari tadi.. hhm,

aku telah tidak tahan nih”, seraya dengan cepat dia membuka bajunya dan dilanjutkan dengan membuka roknya. Ketika tangannya menggali reitsleting roknya, masih sempat-sempatnya tangannya meremas batanganku. Dia segera mengembalikan tubuhnya, payudaranya yang sedang di balik BH-nya sudah membusung. “Buka dong bajumu”, pintanya dengan sarat kemesraan. Dengan cepat kutarik kaosku ke atas, dan celanaku ke bawah. Dia sempat terbelalak saat melihat batang kemaluanku yang sudah terbit dari CD-ku. Kepala batangku hanya 1/2 cm dari pusar

Aku sih tidak inginkan ambil pusing, segera kucium bibirnya yang tipis dan kulumat, segera terjadi peperangan lidah yang lumayan dahsyat hingga nafasku ngos-ngosan dibuatnya. Sambil berciuman, kutarik kedua cup BH-nya ke atas (ini ialah cara paling mudah membuka BH, tidak perlu menggali kaitannya). Dan bleggh.., payudaranya paling besar dan bulat, dengan puting yang kecil warnanya coklat dan tampak urat-uratnya kebiruan. Tangan kananku segera memainkan putingnya yang sebelah kiri dan tangan kiriku sibuk menurunkan Celana dalam-nya. Ketika CD-nya telah mendekati lutut segera kuaktifkan ibu jari kaki kananku guna menurunkan CD yang menggantung dekat lututnya.

Dan bibirku terus turun melewati lehernya yang lumayan jenjang. Nafas Mbak Julia semakin mendengus-dengus dan kedua tangannya meremas-remas buah pantatku dan kadang-kadang memencetnya. Akhirnya mulutku sampai juga ke buah semangkanya. Gila, besar sekali.. amjuga deh, kurasa BH-nya diimpor secara eksklusif kali. Kudorong tubuhnya secara perlahan sampai kami kesudahannya saling menindih di atas kasur yang lumayan empuk. Segera kunikmati payudaranya dengan memakai tangan dan lidahku bergantian antara kiri dan kanan.

Setelah lumayan puas, aku segera menurunkan ciumanku semakin ke bawah, saat ciumanku menjangkau bagian iga, Mbak Julia menggeliat-geliat, saya tidak tahu apakah ini sebab efek ciumanku atau kedua tanganku yang memilin-milin putingnya yang telah keras. Dan semakin ke bawah tampak bulu kemaluannya yang tercukur rapi, dan wangi khas perempuan yang sangat memicu membuatku bergegas mengarah ke liang senggamanya dan segera kujilat unsur atasnya sejumlah kali. Kulihat Mbak Julia segera menghentak-hentakkan pinggulnya saat aku memainkan klitorisnya.

Dan kini terlihat dengan jelas klitorisnya yang kecil. Dengan rakus kujilat dengan keras dan cepat. Mbak Julia bergoyang (maju mundur) dengan cepat, jadi sasaran jilatanku nggak begitu tepat, segera kutekan pinggulnya. Kujilat lagi dengan cepat dan tepat, Mbak Julia hendak menggerak-gerakkan pinggulnya namun tertahan. Tenaga pinggulnya spektakuler kuatnya. Aku berjuang menahan dengan sekuat tenaga dan erangan Mbak Julia yang awalnya sayup-sayup kini menjadi keras dan liar.

Dan kuhisap-hisap itilnya, dan aku merasa ada yang muncrat masuk ke dalam mulutku asin asin gimana gitu, segera kujepit diantara gigi atasku dan bibir bawahku dan segera kugerak-gerakkan bibir bawahku ke kiri dan ke kanan sambil menarik ke atas. Mbak Julia menjerit-jerit keras dan tubuhnya melenting tinggi, aku telah tidak kuasa untuk menyangga pinggulnya yang bergerak melenting ke atas. Terasa liang kewanitaannya paling basah oleh caLindan kenikmatannya. Dan dengan segera kupersiapkan batanganku, kuarahkan ke liang senggamanya dan, “Slebb..” tidak masuk, hanya ujung batanganku saja yang menempel dan Mbak Julia mengerang kesakitan.

“Pelan-pelan Jer”, pintanya lemah. “Ya deh Mbak”, dan kuulangi lagi, tidak masuk juga. Busyet nih cewek, telah jugaya anak namun masih kayak perawan begini. Segera kukorek caLindan di dalam liang kewanitaannya guna melumuri kepala kemaluanku, kemudian perlahan-lahan tapi tentu kudorong lagi senjataku. “Aarrghh. ooouughhh. pelan pelan Jer..” Buset dah sebenarnya baru kepala Kontol aja, telah susah masuknya. Kutarik perlahan, dan kumasukan perlahan juga. Pada hitungan ketiga, kutancap agak kedalam.

Terus cerah saja, usahaku ini sangat menghabiskan tenaga, urusan ini dapat dilihat dari keringatku yang mengalir paling deras. Setelah Mbak Julia tenang, segera senjataku kugerakkan maju mundur dengan perlahan dan Mbak Julia mulai menikmatinya. Mulai ikut bergoyang dan suaranya mulai ikut mengalun bareng genjotanku. Akhirnya lubang memeknya Mbak Julia mulai licin Cerita Sex Hot Tante Di Toko Buku. Dan rasa sakit yang disebabkan oleh kasar dan lebatnya bulu kemaluannya sedikt berkurang dan bagiku ini ialah sangat nikmat.

Baru selama 20 menitan di entot, tiba-tiba dia memelukku dengan kencang dan, “Auuwww..”, jeritannya paling keras, dan sejumlah detik lantas dia mencungkil pelukannya dan tergeletak lemas. “IstLindahat dulu Mbak”, tanyaku. “Ya Jer.. aku hendak istLindahat, abis capek banget sich.. Tulang-tulang Mbak terasa inginkan lepas Jer”, bisiknya dengan nada manja. “Oke deh Mbak, anda lanjutkan nanti aja..”, balasku tak kalah mesranya. “Jer, anda sering ya ginian sama perempuan lain..”, pancing Mbak Julia. “Ah nggak juga kok Mbak, baru sama Mbak aja ini”, jawabku berbohong. “Tapi dari caramu tadi tampak profesional Jer, Kamu hebat Jer.. Sungguh perkasa”, puji Mbak Julia. “Mbak juga hebat, lubang surga Mbak sempit banget sich.., sebenarnya kan Mbak udah punya anak”, balasku balik memuji.

“Ah kamu dapat aja, kalau tersebut sich rahasia dapur”, balasnya manja. Kami juga tertawa berdua seraya berpelukan. Tak terasa sebab lelah, kami berdua tertidur pulas sambil berdekapan dan kami kaget ketika terbangun, rupanya kami tertidur sekitar tiga jam. Kami juga melanjutkan permainan yang tertunda tadi. Kali ini permainan lebih ganas dan liar, kami bercinta dengan bermacam-macam posisi. Dan yang lebih menggembLindakan lagi, pada permainan etape kedua ini kami tidak menemui kendala yang berarti.

Karena di samping kami telah sama-sama berpengalaman, ternyata liang senggama Mbak Julia tidak sesempit yang kesatu tadi, mungkin sebab sudah dimasuki oleh senjataku yang spektakuler ini sehingga sekarang lancarlah senjataku menginjak liang sorganya. Tapi permainan ini tidak dilangsungkan lama sebab Mbak Julia mesti cepat-cepat pulang mendatangi anaknya yang sudah kembali dari les piano. Tapi sebelum berpisah kami saling menyerahkan alamat dan nomer telepon sampai-sampai kami dapat bercinta lagi di lain ketika dengan tenang dan damai.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*